Sungai kehidupan ini,
Adalah alir nadi,
Hayat petani dan nelayan,
Melimpahkan rezeki,
Buat anak isteri.
Sungai kehidupan ini,
Adalah air mata duka,
Pendeta yang berbicara,
Tentang kerakusan manusia,
Yang tak tahu menghargaimu.
Dahulu,
Airmu jernih,
Jelas memperlihatkan hidupan
kecil di dasarmu,
Mentari pagi muncul menyinar
buana,
Lantas kau pancarkan cahaya
biasan,
Mewarnai alam rimba,
Tempat bertapa mergastua.
Dahulu,
Insan kerdil bergelar musafir,
Menagih harapan demi setitis
airmu,
Bagi menghilangkan secebis derita
kehausan,
Demi meneruskan,
Ekspedisi alam fana,
Untuk menuju destinasi kekal.
Kini kulihat dirimu suram tanpa
penyeri,
Arusmu yang dahulunya lancar
tanpa halangan,
Kini kau terpaksa rentasi
rintangan,
Yang menghalangmu setiap detak
waktu,
Demi tujuan yang satu,
Bertemu sang samudera jaya.
Serimu direnggut manusia durjana,
Lantaran sikap tamakkan harta,
Lantaran sikap mengambil enteng,
Kau menjadi korban.
Duhai anak pertiwi,
Kalian adalah generasi penerus
wawasan,
Bangkitlah segera dari tempatmu,
Ayuh bersama kita melestarikan,
Sungai yang suram fajar kisahnya,
Demi kemaslahatan bersama,
Ayuh!

No comments:
Post a Comment