Memoir itu...
Terpahat kukuh...
Dalam segenap akal maya...
Lontaran panahan antagonismu...
Melentur lorong hidup marhen tak berdosa.
Stanza ratnaku goyah...
Mengocak amarah yang di ulit mimpi...
Memasak merdeka di tanah sendiri...
Semboyan jihad menyeruku...
Terik mentari mengintai...
Di celahan denai semangat...
Lambaian pepohonan...
Mengiringi derap langkahku..
Menuju lapangan jihad...
Bakal menyaksikan pertemuan...
Dua seteru...
Dengan menjulang tekad atas paksi kebenaran...
Langkahan tapak ku atur...
Bersama hati bertaut mahabbah...
Bersama jiwa menyanjung daulat...
Bersama insan-insan yang bertunjang...
Ikrar lafaz merdeka...
Menangkis serangan tangan durjana...
Menongkah badai alunan sang penjajah...
Melibas senjata umpama singa di medan...
Meniti kaca percaturan darah...
Momen tatkala ku mengerling...
Monumen lusuh dan tugu berdarah...
Berputar hati rawan...
Biasan monolog kalimah keramat...
Memotret kalam merdeka...
Darmawisata merdeka...
Mahalnya nostalgia...
Mata-mata mulai berkaca...
Mutiara jernih mulai menghujani...
Menjadi memorial rencam merdeka...
Anak watan menerjang udara merdeka...
Hela nafas dalam kalungan kebebasan...
Hanya satu pintaku...
Apresiasi anak wawasan...
Pertahankan keamanan...
Agar temasya berdarah tak berulang...
Hasil nukilan dua puteri berkolaborasi...
Nabila huda dan Asma' amanina...

No comments:
Post a Comment